Aspek Dalam Pancasila Sebagai Sistem Filsafat

Diposting pada

Sejarah Lahirnya Pancasila – PelajaranIPS.Co.Id – Pancasila sebagai sistem filsafat dapat ditinjau dari 3 (tiga) Aspek, yakni: Aspek Ontologis, Aspek Epistemologis dan Aspek Aksiologis.

Aspek Dalam Pancasila Sebagai Sistem Filsafat

  • Aspek Ontologis

Penyelidikan hakikat ada (esensi) dan keberadaan (eksistensi) segala sesuatu : alam semesta, fisik, psikis, spiritual, metafisik, termasuk kehidupan sesudah mati, dan Tuhan.

Aspek Ontologis

Ontologi Pancasila mengandung azas dan nilai antara lain :

Tuhan yang Maha Esa adalah sumber eksistensi kesemestaan. Ontologi ketuhanan bersifat religius, supranatural, transendental dan suprarasional;

Ada – kesemestaan, alam semesta (makrokosmos) sebagai ada tak terbatas, dengan wujud dan hukum alam, sumber daya alam yang merupakan prwahana dan sumber kehidupan semua makhluk: bumi, matahari, zat asam, air, tanah subur, pertambangan, dan sebagainya;

Eksistensi subyek / pribadi manusia: individual, suku, nasional, umat manusia (universal). Manusia adalah subyek unik dan mandiri baik personal maupun nasional, merdeka dan berdaulat.

Subyek pribadi mengemban identitas unik: menghayati hak dan kewajiban dalam kebersamaan dan kesemestaan (sosial – horisontal dengan alam dan sesama manusia), sekaligus secara sosial – vertikal universal dengan Tuhan.

Pribadi manusia bersifat utuh dan unik dengan potensi jasmani – rohani, karya dan kebajikan sebagai pengemban amanat keagamaan;

Eksistensi tata budaya, sebagai perwujudan martabat dan kepribadian manusia yang unggul. Baik kebudayaan nasional maupun universal adalah perwujudan martabat dan kepribadian manusia: sistem nilai, sistem kelembagaan hidup seperti keluarga, masyarakat, organisasi, negara.

Eksistensi kultural dan peradaban perwujudan teleologis manusia: hidup dengan motivasi dan cita – cita sehingga kreatif, produktif, etis, berkebajikan;

Eksistensi bangsa – negara yang berwujud sistem nasional, sistem kenegaraan yang merdeka dan berdaulat, yang menampilkan martabat, kepribadian dan kewibawaan nasional.

Sistem kenegaraan yang merdeka dan berdaulat merupakan puncak prestasi perjuangan bangsa, pusat kesetiaan, dan kebanggaan nasional.

  • Aspek Epistemologis

Sumber, proses, syarat-syarat batas, validitas dan hakikat ilmu. Epistemologi Pancasila secara mendasar meliputi nilai – nilai dan azas-azas:

Baca Juga :  Perumusan Pancasila dan Tokoh - Tokoh Nasional

Aspek Epistemologis

Maha sumber ialah Tuhan, yang menciptakan kepribadian manusia dengan martabat dan potensi unik yang tinggi, menghayati kesemestaan, nilai agama dan ketuhanan.

Kepribadian manusia sebagai subyek diberkati dengan martabat luhur: pancaindra, akal, rasa, karsa, cipta, karya dan budi nurani.

Kemampuan martabat manusia sesungguhnya adalah anugerah dan amanat ketuhanan / keagamaan.

Sumber pengetahuan dibedakan dibedakan secara kualitatif, antara:

Sumber primer, yang tertinggi dan terluas, orisinal: lingkungan alam, semesta, sosial – budaya, sistem kenegaraan dan dengan dinamikanya;

Sumber sekunder: bidang – bidang ilmu yang sudah ada / berkembang, kepustakaan, dokumentasi;

Sumber tersier: cendekiawan, ilmuwan, ahli, narasumber, dan guru.

Wujud dan tingkatan pengetahuan dibedakan secara hierarkis: atas Pengetahuan indrawi, Pengetahuan Ilmiah, Pengetahuan filosofis dan Pengetahuan Religius.

Pengetahuan manusia relatif mencakup keempat wujud tingkatan itu. Ilmu adalah perbendaharaan dan prestasi individual maupun sebagai karya dan warisan budaya umat manusia merupakan kualitas martabat kepribadian manusia.

Perwujudannya adalah pemanfaatan ilmu guna kesejahteraan manusia, martabat luhur dan kebajikan para cendekiawan (kreatif, sabar, tekun, rendah hati, bijaksana).

Ilmu membentuk kepribadian mandiri dan matang serta meningkatkan harkat martabat pribadi secara lahiriah, sosial (sikap dalam pergaulan), psikis (sabar, rendah hati, bijaksana).

Ilmu menjadi kualitas kepribadian, termasuk kegairahan, keuletan untuk berkreasi dan berkarya.

Martabat kepribadian manusia dengan potensi uniknya memampukan manusia untuk menghayati alam metafisik jauh di balik alam dan kehidupan.

Memiliki wawasan kesejarahan (masa lampau, kini dan masa depan), wawasan ruang (negara, alam semesta), bahkan secara suprarasional menghayati Tuhan yang supranatural dengan kehidupan abadi sesudah mati.

Pengetahuan menyeluruh ini adalah perwujudan kesadaran filosofis-religius, yang menentukan derajat kepribadian manusia yang luhur.

Berilmu / berpengetahuan berarti mengakui ketidaktahuan dan keterbatasan manusia dalam menjangkau dunia suprarasional dan supranatural.

Baca Juga :  Pancasila Sebagai Sumber Nilai Dan Makna Nilai Pancasila

Tahu secara “melampaui tapal batas” ilmiah dan filosofis itu justru menghadirkan keyakinan religius yang dianut seutuh kepribadian: mengakui keterbatasan pengetahuan ilmiah – rasional adalah kesadaran rohaniah tertinggi yang membahagiakan.

  • Aspek Aksiologis

Menyelidiki pengertian, jenis, tingkatan, sumber dan hakikat nilai secara kesemestaan. Aksiologi Pancasila pada hakikatnya sejiwa dengan ontologi dan epistemologinya.

Pokok – pokok aksiologi itu dapat disarikan sebagai berikut:

Aspek Aksiologis

Tuhan yang mahaesa sebagai mahasumber nilai, pencipta alam semesta dan segala isi beserta antarhubungannya, termasuk hukum alam.

Nilai dan hukum moral mengikat manusia secara psikologis – spiritual: akal dan budi nurani, obyektif mutlak menurut ruang dan waktu secara universal.

Hukum alam dan hukum moral merupakan pengendalian semesta dan kemanusiaan yang menjamin multieksistensi demi keharmonisan dan kelestarian hidup.

Subyek manusia dapat membedakan hakikat mahasumber dan sumber nilai dalam perwujudan Tuhan yang mahaesa, pencipta alam semesta, asal dan tujuan hidup manusia (sangkan paraning dumadi, secara individual maupun sosial).

Nilai – nilai dalam kesadaran manusia dan dalam realitas alam semesta yang meliputi: Tuhan yang mahaesa dengan perwujudan nilai agama yang diwahyukan-Nya.

Alam semesta dengan berbagai unsur yang menjamin kehidupan setiap makhluk dalam antarhubungan yang harmonis, subyek manusia yang bernilai bagi dirinya sendiri (kesehatan, kebahagiaan, dan sebgainya) beserta aneka kewajibannya.

Cinta kepada keluarga dan sesama adalah kebahagiaan sosial dan psikologis yang tak ternilai.

Demikian pula dengan ilmu, pengetahuan, sosio-budaya umat manusia yang membentuk sistem nilai dalam peradaban manusia menurut tempat dan zamannya

Manusia dengan potensi martabatnya menduduki fungsi ganda dalam hubungan dengan berbagai nilai: manusia sebagai pengamal nilai atau “konsumen” nilai yang bertanggung jawab atas norma – norma penggunaannya dalam kehidupan bersama sesamanya.

Baca Juga :  Sistem Hukum Pancasila

Manusia sebagai pencipta nilai dengan karya dan prestasi individual maupun sosial (ia adalah subyek budaya).

“Man created everything from something to be something else, God created everything from nothing to be everything.” Dalam keterbatasannya, manusia adalah prokreator bersama Allah.

Martabat kepribadian manusia secara potensial-integritas bertumbuh kembang dari hakikat manusia sebagai makhluk individu – sosial – moral;

Berhikmat kebijaksanaan, tulus dan rendah hati, cinta keadilan dan kebenaran, karya dan darma bakti, amal kebajikan bagi sesama.

Manusia dengan potensi martabatnya yang luhur dianugerahi akal budi dan nurani sehingga memiliki kemampuan untuk beriman kepada Tuhan yang mahaesa menurut agama dan kepercayaan masing-masing.

Tuhan dan nilai agama secara filosofis bersifat metafisik, supernatural dan supranatural.

Maka potensi martabat manusia yang luhur itu bersifat apriori: diciptakan Tuhan dengan identitas martabat yang unik: secara sadar mencintai keadilan dan kebenaran, kebaikan dan kebajikan.

Cinta kasih adalah produk manusia – identitas utama akal budi dan nuraninya – melalui sikap dan karyanya.

Manusia sebagai subyek nilai memikul kewajiban dan tanggung jawab terhadap pendayagunaan nilai, mewariskan dan melestarikan nilai dalam kehidupan.

Hakikat kebenaran ialah cinta kasih, dan hakikat ketidakbenaran adalah kebencian (dalam aneka wujudnya: dendam, permusuhan, perang, dan sebagainya).

Eksistensi fungsional manusia ialah subyek dan kesadarannya. Kesadaran berwujud dalam dunia indra, ilmu, filsafat (kebudayaan / peradaban, etika dan nilai – nilai ideologis) maupun nilai – nilai supranatural.

Demikian penjelasan artikel diatas tentang 3 Aspek Dalam Pancasila Sebagai Sistem Filsafat semoga dapat bermanfaat bagi pembaca setia PelajaranIPS.Co.Id