Perjuangan Bangsa Indonesia Dalam Mencapai Kemerdekaan

Diposting pada

Perjuangan Bangsa Indonesia

Perjuangan Bangsa Indonesia – Melawan Penjajah & MempertahankanPelajaranIPS.Co.Id– Sejak di Internirnya Ir. Soekarno yang diikuti dengan pembubaran Partai Nasional Indonesia (PNI), dan tak lama kemudian Bung Hatta dan Bung Syahril juga di Interir oleh pemerintah Hindia Belanda yang diikuti juga dengan pembubaran Partai Pendidikan Nasional Indonesia (PNI) dan Partai Indonesia (PARTINDO). Pada tahun 1934 perlawanan secara radikal sudah jarang dijumpai lagi.

Perjuangan Bangsa Indonesia


Hal ini disebabkan karna makin kejamnya Perintah Kolonial Belanda pada Pergerakan Nasional Bangsa Indonesia. Akan tetapi tidak berarti perlawanan Bangsa Indonesia sudah dipatahkan, redanya radikalitas ini hanya sekedar taktik dari pemimpin – pemimpin Indonesia yang masih ada untuk meneruskan perjuangan, guna untuk mencapai kemerdekaan Indonesia yang disesuaikan dengan keadaan dan kekejaman penjajah Belanda,


Sehingga dapat dikatakan bahwa jika sebelumnya pemimpin Indonesia sudah tegas memperjuangkan Indonesia Merdeka sebagai tujuan, maka sekarang perjuangan itu beralih ke bawah tanah dengan segala taktik perjuanganya. Hal ini dapat kita ingat misalnya dalam pembentukan Gerakan Rakyat Indonesia (GERINDO) pada April 1937 yang diketuai oleh mantan anggota Partai Nasional Indonesia (PNI) atau mantan pemimpin – pemimpin PARTINDO yaitu :

  1. Sartono
  2. Amir Syarifuddin
  3. Adnan Kapau Gani
  4. Muh. Yammin

Baca Artikel Lainnya : Artefak Adalah


Partai baru ini sebagai rencana perjuangan guna untuk mencapai Indonesia Merdeka tak lagi dipertahankan asas Non-Cooperation, tetapi sebaliknya menyatakan suka bekerja sama dengan Pemerintah Belanda, jadi berhaluan Coorporation juga. Hal yang sama dapat dilihat pada Partai Indonesia Raya (PARINDRA) yang merupakan pelebur dari Budi Utomo dan Persatuan Indonesia (Penggabungan antara Indonesische Studie Club di surabaya dan Serikat Madura). Didalam PARINDRA juga menggabungkan diri masing – masing, diantaranya :


  • Serikat Celebes
  • Serikat Ambon
  • Serikat Sumatra
  • Tirtayasa
  • Perkumpulan Kaum Betawi
Baca Juga :  Peninggalan Kerajaan Kutai

Dalam anggaran dasarnya, seperti yang telah dicantumkan tujuan PARINDRA yaitu :

  1. Mencapai Indonesia Mulia dengan Sempurna dengan dasar Nasionalisme Indonesia.
  2. Berhaluan Cooperative, tapi dengan kemudian secara Insendetil Non Cooperative, yaitu bila ada kejadian yang sangat mengecewakan perkumpulan, maka dapat secara Insendentil pula diputuskan untuk menarik kembali wakil – wakil dari dewan perwakilan (Volksraad).

Oleh Pemimpin Pergerakan Nasional pada saat itu telah dilihat suatu gejala akan terjadi pecah perang ke-II, maka pada Mei 1939 PARINDRA mendirikan suatu badan fedrasi dari perkumpulan politik yaitu Gabungan Politik Indonesia (GAPI). Masing – masing yang tergabung dalam GAPI yaitu :

  • Gerakan Rakyat Indonesia (GERINDO)
  • Partai Islam Indonesia (PII / PAR II)
  • Partai Serikat Islam Indonesia (PSII)
  • Partai Indonesia Raya (PARINDRA)
  • Pasundan
  • Persatuan Minahasa

Baca Artikel Lainnya : Bukti Peninggalan Kerajaan Kahuripan Serta Arca Dan Candinya


GAPI dipimpin oleh sebuah sekertaris dan terdiri dari :

  1. Muhammad Husni Thamrin dari PARINDRA
  2. Amir Syarifuddin dari GERINDO
  3. Abikusno Cokroaminoto dari PSII

Pada Desember 1939, GAPI mengadakan Kongres untuk menuntut Pemerintah Hindia Belanda agar segera dibentuknya :

  • Parlemen yang dipilih secara langsung dengan pemilihan umum.
  • Pemerintah terdiri dari Mentri – mentri yang bertanggung jawab dalam parlemen.

Syarat ini diajukan pada pemerintah Hindia Belanda sebagai syarat untuk membantu pemerintah Hindia Belanda dalam peperangan yang akan datang. akantetapi oleh pemerintah Hindia Belanda tak direspon, sehingga pada waktu Tentara Jepang mendarat pada 1 Maret 1942 di Banten, Indramayu dan Tuban yang diakhiri dengan suatu penyerangan pada 8 Maret 1942 di Stasiun Udara Kalijati. Panglima Tentara sekutu di Hindia Belanda yaitu Terpoorten dan Gubernur Jendral Baron TjardaStarkenborgh Stachower menandatangani penyerahan tanpa syarat atas nama Pemerintah Kolonial Belanda kepada Panglima tentara Fasis Jepang yaitu Jendral Imamura.


Zaman Pendudukan Jepang

Perjuangan Bangsa Indonesia Dalam Mencapai Kemerdekaan

Sebelum Peemerintah Kolonial Belanda ditaklukan oleh Jepang, pada 8 Maret 1942 tanpa syarat, Jepang secara terus menerus mengadakan Propaganda terhadap Indonesia. Radio Tokyo terus menerus mem – Propaganda apa yang disebut cita – cita “Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya” yang dimulai dan ditutup dengan lagu Indonesia Raya.

Baca Juga :  Masa Kejayaan Kerajaan Kediri Dan Puncaknya Secara Singkat

Selama agresi dilancarkan dan disiar itu di Intensiatifkan, dan sebelum pendaratan dilakukan dari udara disebarkan bendera Jepang dan Indonesia, yaitu Hi-nomaru dan Merah Putih, disertai tulisan dibelakangnya yang berbunyi “Satu Warna Satu Bangsa” hal ini dimaksudkan agar menarik hati rakyat Indonesia yang rindu akan Kemerdekaanya. Akan tetapi setelah Jepang menaklukan Pemerintah Kolonial Belanda, janji yang muluk sama sekali tak ditepati oleh Jepang.

Baca Artikel Lainnya : Sejarah Kerajaan Malaka, Peninggalan, Kehidupan, Kebudayaan, Kejayaan & Kemundurannya


Sejak menyerahnya Gubernur Jendral Pemerintah Belanda dan atas nama Pemerintah Kolonial Belanda, maka pada 8 Maret 1942 mengeluarkan peraturan yang melarang semua rapat. Pada bulan Maret 1942 dengan dikeluarkanya peraturan yang membubarkan semua perkumpulan  dan partai, lalu untuk mengambil hati rakyat Indonesia atau bisa dikatakan rakyat Indonesia diikut sertakan dalam perang dunia ke-II untuk kepentingan dan keuntungan,


oleh Jepang dibentuk dan dinamakan Pergerakan Tiga A pada bulan April 1942 yang diketuai oleh H. Sjimtzu (Seorang ahli propaganda  iliter Jepang) dan Mr. Syamsuddin (bekas pemimpin pemimpin pemuda PARINDRA (Suryawirawan). Pergerakan 3 A adalah sebuah gerakan yang mem-propagandakan tentang :

  1. Pemimpin Asia-Nippon
  2. Pelindung Asia-Nippon
  3. Cahaya Asia-Nippon

Pergerakan 3 A dibubarkan pada 20 November 1942 dan digantikan dengan didirikanya Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA). Pada 9 Maret 1943 dibawah pimpinan Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Ki Bagus Hardikusuma, dan Kiyai Haji Mansyur terkenal dengan julukan “Empat Serangkai”.


Pemerintah bala Tentara Jepang belum puas dari hasil PUTERA,maka pada Januari-Maret 1944 PUTERA digantikan  dengan Jawa Hookokai (Perhimpunan Kebaktian Rakyat) yang bersifat setengah resmi dan ditetapkan setiap Kerisidenan, Kabupaten, Kotapraja, Kawedanan, Kewedanan, Kecamatan harus ada cabang Jawa Hookokai. Pemerintah Jepang juga membentuk organisasi khusus wanita (Fuzinkai) juga untuk pemuda umur 14 – 25 tahun yaitu (Seinendan) sedangkan pemuda umur 25 tahun keatas (Keibodan).


Pada 15 Juli 1942, Pemerintah Jepang menetapkan dan memperbolehkan mendirikan Perkumpulan dan mengadakan rapat yang bertujuan :

  • Kepelesiran dan Kesenangan
  • Gerakan Badan (Olahraga)
  • Pengetahuan, Kesenian, dan Pendidikan
  • Memberikan Derma dan Pertolongan
  • Mendistribusikan Barang
Baca Juga :  [Lengkap] Kerajaan Islam Di Indonesia Dan Peninggalannya

Lalu untuk mengambil hati rakyat Indonesia golongan Islam, pada 13 juli 1942 Pemerintah Jepang menghidupkan kembali Majelis Islam Indonesia. Pada 24 Oktober 1943 diganti namanya menjadi Majelis Syuro Muslimin Indonesia (MASYUMI).


Usaha jepang lebih ditingkatkan  dengan persyaratan yang lebih ringan agar bangsa indonesia dan para pemimpinya mau memberikan bantuan yang diperlukan. Pada September – Oktober 1943 dibentuklah :

  1. Badan Penasehat Pusat (Tjuo sangiin) yang dipimpin Ir. Soekarno sebagaiKetua
  2. Membentuk Pasukan Sukarela Tentara Pembela Tanah Air (PETA) dalambahasa jepang (Kyodo Boniguju Gun) dan untuk tiap tiap keresidenanditetapkan sejumlah 1000 prajurit.

Kedua Badan ini dimaksudkan untuk dapat memberikan bantuan sebesar besarnya  dalam memenangkan peperangan Asia Timur Raya oleh Pemerintah Jepang.

Baca Artikel Lainnya : Hancurnya Kerajaan Di Indonesia Serta Faktor Kelemahannya


Detik-Detik Kekalahan Jepang

Pada awal 1945 Jepang mulai terdesak dengan segala liku peperangan, lalu jepang teringat akan semangat cita-cita bangsa Indonesia yang tak pernah padam itu menjanjikan kemerdekaan dikemudian hari. Hal ini mempunyai maksud oleh jepang yaitu :

  1. Untuk kemerdekaan indonesia, Jepang adalah bangsa yang membantu perjuangan bangsa Indonesia.
  2. Dari harapan yang diberikan bangsa Indonesia dapat memberikan lebih banyak bantuan kepada pemerintah jepang baik secara baik atau paksa untuk keperluan jepang.

Maka untuk merealisasikan janji-janji jepang maka oleh pemerintah pendudukan jepang dibentuk majelis undang-undang dasar .Majelis ini  ini  oleh prof.Mr Muh Yamin disebut Konsituantepertama dibuat di Indonesia.

Majelis pembuat undang-undang dibagi menjadi dua  badan ataub panitia yaitu :

  1. Badan Penyidik Usuha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (Dokuritsu Zyumbi Tyoosakai), yang beranggota 62 orang di pimpin oleh dr.K.T.T.Rajiman widiodiningrat sebagai ketua dan dan raden Panji suroso sebagai wakil ketua dengan tugas merancang undang-undang dasar.
  2. Panitia Persiapan Kemerdekan Indonesia beranggota 19 orang dan pada tanggal 18 Agustus 1945 ditambah 6 orang anggota yang diketuai oleh Soekarno dan Drs.Moh Hatta sebagai wakil ketua dengan menetapkan undang-udang dasar.